Tampilkan postingan dengan label Sastra Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Bahasa. Tampilkan semua postingan

Sejarah Bahasa Indonesia

Minggu, 27 Maret 2011

0 komentar
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresimikan penggunaannya setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di timor leste, bahasa Indonesia adalah bahasa kerja (working language)

Dari sudut pandang liguistika, bahasa Indonesia adalah suatu varian bahasa melayu. Dasar yang di pakai adalah bahasa melayu riau dari abad ke-19, namun mengalami perkembangan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja dan proses pembakuan di awal abad ke-20. hingga saat ini, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Ketawa yoookkk. . . .

Sabtu, 26 Maret 2011

0 komentar


Saat waktu senggang,enaknya main-main! Senda gurau bersama teman sampe nangis itu yang paling seru,manTAFT bin aJEEP. . . .
Coba tebak-tebakan ini..!!!!
·         
  •      Mengapa ada orang yang tidak bisa bilang r r r r r r..?????

          Karena waktu TK,saat pelajaran huruf ‘r’ dia bolos terus. . .

  •      Siapa orang yang bisa mindahin gunung?

         Yang pasti hanya dalang wayang.

  •       Monyet naik,tinggal apanya?

         Tinggal turunnya donk..!!!

  •       Disebut apakah lelaki ayng mempunyai anak 300..????

        Ayah!

  •       Donat apa yang dalamnya ada bawangnya?

          Donat salah adonan!

  •               Kenapa anak babi bau?

          Karena babi keteknya 4

  •                          Ada tiga orrang makan di restoran. Yang satu orang buta,yang satunya tuli dan satunya lagi bisu. Orang mana yang harus bayar?

         Orang tuli lah,lha wong yang tuli yang ulangtahun..!!

  •                       Apakah kepanjangan dari HIJ..???

           HIJKLMNOPQRSTUVWXYZ.....

  •                       Raja kalu meninggal,anaknya jadi apa?

        Jadi yatim donk...!!!!

  •                    Tahu apa yang paling besar?

          Tahu isi Sumedang... (segedhe apa ya tuh)

  •          Apa penyebab pertama perceraian?

          Pernikahan donkkz.. . .

  •                      Fruit kalo dikasih S  jadi apa?

         Es buah.. (~__~)”

  •                     Orang berak,pegangan apa?

         Pegangan hidungnya..! bauk siich. . .!!

  •    Kalo semua polisi jadi pencuri,pencuri jadi apa????

         Jadi banyak donkkk. . . .

  •                   Ikan bernafas dengan insang,katak bernafas dengan paru-paru,tukang becak bernafas dengan???

        Terengah-engah. . .

  •                Anak mama ada 7, nama nya Meri,Mavie,Maissy,Mawar,Marsinah,Maky,dan Maggy. Lantas bagaimana mama memanggil ketujuh anaknya sekaligus saat  jam makan malam?

       Anak mama semua...ayo makan malam! (hahaha. . . ngapain repot?)

Puisiku Terjemahan Hatiku

0 komentar
Semangat Tanpa Balas
(Renny Andriyanti)

Ku tanam sesuatu di benaku tiap ku tapaki ini
Jengkal demi jengkal jalan setapak ku lalui
Medan perang tempat kesengsaraan
Dahulu penuh darah cucuran
Butiran keringat menetes
Tergeletaknya tubuh kekar sang pahlawan
Jika saja kau tahu kawan
Pahlawan tak lebih dari seorang pembunuh
Pembunuh kesengsaran umat pribumi
Ia juga tak ubahnya seorang penjudi
Yang rela mempertaruhkan jiwa raganya
Hanya untuk membela kaum lemah semacam kita
Deburan semangat berkobaran
Menang kalah harus menang
Tak berharap balasan
Sekantong uang ataupun sebongkah berlian
Tak diinginkannya
Hanya kebebasan rakyat
Kesenangan umat yang ia dambakan

Sahabat Sejati

0 komentar
Betapa enak menjadi anak orang kaya. Semua serba ada. Segala keinginan terpenuhi. Karena semua tersedia.
Seperti Iwan. Ia anak konglomerat. Berangkat dan pulang sekolah selalu diantar mobil mewah dengan sopir pribadi.
Meskipun demikian, ia tidaklah sombong. Juga sikap orang tuanya. Mereka sangat ramah. Mereka tidak pilih-pilih dalam soal bergaul.
Seperti pada kawan-kawan, Iwan yang datang ke rumah. Mereka menyambutnya secara kekeluargaan sehingga kawannya banyak yang betah kalau main di rumah Iwan.
Iwan sebenarnya mempunyai sahabat setia. Namanya Momon.
Rumah momon masih satu kelurahan dengan rumah Iwan. Hanya beda RT. Namun, sudah hampir dua minggu Momon tidak main ke rumah Iwan.
“Ke mana, ya, Ma, Momon. Lama tidak muncul. Biasanya tiap hari ia tak pernah absen. Selalu datang.”
“Mungkin sakit!” jawab Mama.

Tanggal Tujuh

Jumat, 25 Maret 2011

0 komentar
Pam Imran menatap dingin surat yang tergeletak di hadapannya. Surat itu baru saja dia terima. Pengirimnya adalah guru yang setiap hari mengajar anaknya, Ari, isinya? Ya, isi surat itu yang membuatnya jadi tidak habis pikir.
Di dalam surat itu dikatakan bahwa sudah 3 bulan Ari tidak melunasi uang SPP-nya. Padahal seingatnya, ia tak pernah melalaikan kewajibannya yang satu ini.
Pak Imran hampir tidak dapat mempercayai pikirannya sendiri. Ia tidak percaya, kalau Ari anak yang begitu disayanginya, telah begitu berani menghabisi uang SPP yang seharusnya ia berikan kepada gurunya.
Setiap tanggal tujuh, kapan anaknya selalu meminta uang bayaran kepadanya, Pak Imran tahu itu. Karenanya, sebelum berangkat ke kantor ia tidak memberikan uang SPP itu kepada istrinya. Pak Imran sengaja duduk di serambi depan menunggu Ari.

Kisah Dua Tukang Sol Sepatu

0 komentar
KISAH DUA TUKANG SOL SEPATU
Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.
Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.
Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.
“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.
“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.
“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.
“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”
“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.
“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.
“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.
“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.
Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.
“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”
Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.
Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,
“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”
Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,
“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”
“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.
“Abang yakin?”
“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.
“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.
“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.
Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.
“Apa kabar mang Udin?”
“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.
Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,
“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”
“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.
“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.
Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,
“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”
“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.
Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.
“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.
Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.
“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.
“Tidak.”
“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”
Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.
“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”
Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

Bola Pahlawan Kecil Ku

Kamis, 24 Maret 2011

0 komentar
                Tiap aku selesai sholat aku selalu berdoa agar aku tak dijadikan anak tunggal lagi,cukup bagiku menjadi anak tunggal selama tiga belas tahun.Akhirnya Tuhan mendengar dan mengabulkan doa ku,aku akan mendapat seorang adik.Maka akan ku pastikan jika rumah yang selama belasan tahun ini sepi akan menjadi ramai.Aku akan menjadi seorang kakak,seseorang yang akan menyuapi adikku dikala ia sakit,menggendongnya ke kamar mandi jika ia sedang tak bisa berjalan.Selama sembilan bulan sudah bundaku mengandung,dan akhirnya waktu yang ku nanti-nanti tiba.Sore tadi bunda ku melahirkan bayi perempuan cantik yang kulitnya masih kemerah mudaan.Dan ayah menamai adikku Kania Sesilia.
            Tujuh tahun berlalu,adikku kini tumbuh menjadi gadis kecil yang lucu nan cantik.Tapi,dibalik perangainya yang seperti itu,dia sangat terobsesi pada benda bundar yang bisa menggelinding kesana kemari,bisa disepak orang dari sana ke sini,yaitu bola.Saban sore,saat aku mengambil dan mengeluarkan bola dari lemari,adiku selalu membuntutiku,aku tau maksud adiku apa,ia juga ingin bermain bola dengan ku.Akhirnya aku mendapat teman main untuk bermain bola.Suatu saat ia menggatakan pada ayah bahwa ia ingin dibelikan bola.

Seputih Hati Seorang Ayah

0 komentar
Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya. Anak wanita itu bertanya pada ayahnya: "Ayah , mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?" Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu berguman : " Aku tidak mengerti."

Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki."
Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya :"Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"
Ibunya menjawab: "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian."
Hanya itu jawaban Sang Bunda. Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran.

Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.
"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. "

Kisah Si Kerang Mutiara

0 komentar
Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

"Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu."